Media Online Siapa yang Kredible ? Anti Hoax!

perangi hoax

Tulisanaliansera.com – Kemarin saya terpikir menulis sebuah artikel dan ulasan opini terkait media. Walaupun saya bukan bergerak dibidang media manapun, mungkin dalam arti kata saya sebenarnya belum terlalu mampu untuk menilai sebuah media yang mana memiliki kredible. Hanya saja belakangan ini ada saja media yang menelpon saya untuk mengajak bergabung mulai dari media yang blogger sampai kepada media yang cmsan.

Terlepas dari semua itu, media tidak hanya bisa dinilai dari penggunaan software managemen kontennya, melainkan banyak faktor yang membuat media itu bisa dinilai.

Saya sebagai masyarakat Indonesia terkadang menyayangkan banyak bermunculan media abal-abal yang hanya bermodalkan blogspot guna untuk menarik jumlah kunjungan dan jumlah view per artikelnya. Sehingga tujuan akhirnya mendapatkan iklan dari google bisa tersegerakan. Apalagi beberapa pengguna media sosial tidak langsung membaca artikel, terkadang ada hanya melihat judul langsung membagikan secara terus menerus.

Ada beberapa teman di media sosial saya lihat isi didalam berandanya itu mengenai informasi dari luar yang dibagikan dengan terus menerus, ntah didalamnya dibaca terlebih dahulu atau tidak itu pun tidak diketahui kejelasannya. Selain berita politik, berita dan informasi lowongan kerja kerap menjadi target para pembuat berita untuk mendapatkan sebuah klikan share. Padahal nilai dari lowongan itu belum kebenarannya.

BAGAIMANA JADINYA DONG ?

Sebenarnya kita juga sedikit kebingungan untuk menentukan yang mana benar dan tidak dalam memberikan informasi. Ada beberapa media abal-abal yang hanya mau mengejar profit dalam kesehariannya. Istilah memang ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dalam membuat sebuah media informasi. Padahal kita seharusnya bisa memberikan yang lebih kepada masyarakat, bukan hanya mencari sepeser uang dari masyarakat.

Mari menilai.

Terkait mengenai kredibilitas media, ada beberap faktor penentu yang bisa dijadikan acuan, yaitu :

  • Berimbang : nilai keseimbangan dalam penyampaian informasi / pemberitaan. Termasuk didalamnya penyampaian informasi dua kubu yang saling bertentangan. Media harus bisa menyampaikan secara berimbang. Sehingga kami sebagai pembaca tidak memihak ke salah satu kubu.
  • Akurasi : Ketepatan dan keakuratan dalam menampilkan konten informasi/ berita. termasuk data-data yang ditampilkan merupakan dari sumber yang jelas. Mengungkapkan fakta-fakta yang memang terjadi realitasnya. Judul dan informasi dalam penyampaian konten saya rasa juga harus sama, jadi jangan sampai judul apa, isi pun apa.
  • Nilai : Nilai informasi yang selalu update, bukan informasi lama yang selalu di ubah-ubah mengikuti perkembangan zaman. Melaikan memang sebuah informasi yang secara realtime di siarkan kepada masyarakat.
  • Adil dan Masuk Akal: Kejujuran dalam menyampaikan informasi juga diperlukan serta informasi yang masuk akal terhadap nalar masyarakat. Terkadang ada sebuah informasi yang hanya mengungguli satu calon padahal kita tau nilai yang diberikan itu tidaklah sampai segitu.
  • Tidak Memihak : Informasi juga diharapkan masyarakat bukan informasi golongan. Karena banyak setoran yang diberikan maka membuat media itu menjadi berat sebelah mengungguli satu golongan saja. Padahal seharusnya ada segi-segi lain yang juga harus dikupas sehingga hasil informasi tidak memihak.

ERA DIGITAL, PERTUMBUHAN CEPAT

Memasuki era digital yang serba cepat pertumbungannya ini, membuat sebuah media informasi bukan hal sulit seperti zaman dulu. Zaman dulu mereka harus memang memiliki izin yang cukup kuat, sebuah lokasi yang stategis, serta alat dan bahan tempur yang cukup banyak.

Hal itu tidak terlalu dibutuhkan dizaman era ini, karena media online hanya bermodalkan uang 500.000 dan kepahaman mengenai cara menulis maka sudah bisa menghasilkan sebuah media informasi. Mungkin ada beberapa dari media informasi sudang menggantongi izin yang cukup sehingga saya rasa dia bukan media abal-abal lagi.

Munculnya media abal-abal di era sekarang ini membuat kita semakin resah. Indonesia sekarang saja semakin di hantui HOAX yang bertebaran dimana-mana. Salah satu penyebabnya adalah mudahnya muncul media abal-abal yang tanpa kejelasan asal-usulnya.

Bahkan Dewan Pers menunjukkan bahwa mayoritas media online di Indonesia saat ini tidak profesional alias media abal-abal.

Saat ini kami perkirakan ada 47.000 media di Indonesia, dengan 43.300 itu bentuknya media siber. Media cetak 2.000, ratusan radio, tv swasta, dan TVRI, lalu sekitar 400-an televisi lokal. Nah, itu jumlah siber memang banyak sekali dan tidak bisa terkontrol. Banyak yang tidak memiliki persyaratan media seperti diatur dalam Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, yaitu harus berbadan hukum, mencantumkan alamat redaksi, mencantumkan penanggung jawab, dan taat pada kode jurnalistik. Akibatnya apa? Ya, hoax bermunculan. Celakanya, hoax kadang jadi viral, dan masuk ke media massa mainstream.

petikan diskusi media gatra.com

TANJUNG BALAI KARIMUN

Dari sebuah media gatra.com memuat diskusi wartawan GATRA Hendri Firzani, Basfin Siregar, dan pewarta foto Rifki M. Irsyad lantas berbincang dengan pria yang akrab disapa Stanley ini.

Begini, saya kasih contoh. Saya pernah datang ke Tanjung Balai Karimun. Itu kabupaten yang penduduknya cuma 178.000. Tapi di sana ada 500 media siber. Tidak logis. Sebagian abal-abal. Masalahnya begini. Humas Pemkab Tanjung Balai Karimun membuat acara, mengundang 50 media, terus dikasih uang transportasi, goodybag, macam-macamlah. Eh, media yang datang 500. Mereka datang ke humas dan bilang, ‘Pak, kami juga media online, kenapa enggak dapat uang transportasi? Enggak dapat goodybag?’ Wah, bingung si humas. Diteror, dimintai uang.
Mereka (pemkab) lalu mengundang kami, bagaimana kami membedakan media yang benar dan yang tidak? Setelah kami teliti, ternyata media sibernya itu berupa blog gratisan, tapi didesain seakan-akan situs berita. Isinya fitnah dan tujuannya memeras. Sebagian juga pakai nama BNN, KPK, bahkan BIN.

pertikan media gatra.com

ENDINGNYA

Ending dari tulisan ini, mari kita bersama perahi hoax dan jangan ciptakan hoax itu sendiri. Hoa itu ibarat sebuah jamur, jika tidak dicabut ke akar-akarnya maka akan tumbuh dengan cepat. Dunia makin cepat berkembang dan betumbung, jika kita terus menebarkan jamur dimana-mana bukan ornag lain terkena jamur kita juga bakalan terkena jamur dan gatal-gatal. Hal itu sangat mengganggu keluarga kita, dan sekitaran kita.

Link Kutipan Tulisan

https://dewanpers.or.id/
https://www.gatra.com/rubrik/kolom-dan-wawancara/260823-ketua-dewan-pers-banyak-media-siber-abal-abal
https://www.baticmedia.com/2016/08/kredibilitas-media-online-pengertian.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Saya !